Mutiara Hadits 960 – PERINGATAN ITU DATANG SAAT MANUSIA TERLELAP MENJELANG FAJAR

Musibah bermakna teguran. Hal ini berlaku bagi kaum Muslimin yang masih suka memperturutkan hawa nafsu. Terkadang mereka taat, tetapi di waktu yang lain mereka bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Azab dan musibah yang Allah berikan kepada kaum-kaum terdahulu dan sekarang, merupakan pelajaran bagi generasi yang hidup sesudahnya. Peristiwa-peristiwa itu ditetapkan Allah Ta’ala untuk mengingatkan diri kita, agar senantiasa beriman kepada Allah dengan sebenar-benar iman.

Bahwa waktu pagi, terutama waktu subuh, merupakan waktu perubahan. Di waktu inilah, saat yang pertama keadilan muncul setelah kedzoliman. Saat yang pertama datang kebaikan datang setelah kerusakan.

Waktu pagi adalah saat perubahan, pengokohan, kemuliaan dan diangkatnya derajat orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala telah membinasakan kaum yang durhaka dan mengokohkan orang yang beriman kepada-Nya. Azab adalah pembatas yang jelas, dimana Allah Ta’ala membatasi kehidupan jahiliah dengan kehidupan orang-orang yang bertaqwa.

Allah Ta’ala telah memberi gambaran tentang kehancuran suatu kaum dengan azab-Nya di waktu pagi. Maka hendaklah kita memperbanyak taubat dan ketaqwaan kepada Allah. Agar Dia menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang beriman, dan menjauhkan kita dari adzab-Nya.

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata :

أذن الله سبحانه لها –أي للأرض– في الأحيان بالتنفس، فتحدث فيها الزلازل العظام، فيحدث من ذلك لعباده الخوف والخشية والإنابة والإقلاع عن معاصيه والتضرع إليه والندم، كما قال بعض السلف وقد زلزلت الأرض: إن ربكم يستعتبكم.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya, dari situ timbullah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi, “Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat.”
[Miftah Daaris Sa’adah, jilid 2 hlm. 630]

Mereka manusia manusia mulia tidak pernah melewatkan waktu malam menjelang fajar untuk senantiasa berzikir, bertasbih, sholat, tilawah Quran serta memohon ampun atas segala perbuatan dosa mereka yang begitu kwatir akan mejerumuskannya kedalam azab yang pedih yaitu neraka jahanam.

Allah Ta’ala, berfirman:

تَتَجَافٰى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 16)

Tengoklah beberapa kisah manusia manusia mulia yang tidak pernah terlelap tidurnya karena takut dengan azab neraka, bagaimana dengan kita?

Diriwayatkan dari Abu Mahdi. Ia berkata, Sufyan Ats-Tsauri tidak tidur kecuali pada awal malam. Ia lalu terbangun dengan perasaan sangat terkejut dan berkata, ”Neraka… neraka… neraka, ingatanku akan neraka telah melupakanku untuk tidur dan syahwat.” Ia kemudian mengambil wudhu. Setelah berwudhu, ia berdoa, ”Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu akan hajatku. Saya tidak minta apa-apa, selain memohon agar Engkau membebaskanku dari Neraka.”

Untuk makna inilah ‘Abdullah bin Al-Mubarak, semoga Allah Ta’ala merahmatinya, berkata:
”Jika malam sudah gelap, mereka bersungguh-sungguh sehingga malam berlalu, sedangkan mereka sedang rukuk.
Rasa takut telah mengusir keinginan untuk tidur, mereka pun melaksanakan sholat.
Sementara mereka yang merasa aman di dunia tidur terlelap.”

Ibnu Al-mubarak pun berkata:
”Alas tidur mereka adalah kain sebelah kanan yang sedang di pakainya, sedangkan bantalnya adalah lengannya.
Malam hari mereka diisi dengan rasa takut, tempat tidurnya hanyalah sarang burung yang di anyam.
Warna kulitnya kuning, seolah-olah wajahnya tinggi, tubuhnya kering-kerontang.
(Tubuhnya) Tipis bagaikan pedang, karena kesungguhan dan begadang.
Berdiri sholat karena Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang tidur.
Mereka menangis dan terkadang berteriak, tatkala orang-orang tidur di pembaringan.
Mereka senantiasa berdzikir.
Matanya bercucuran karena takut kepada Allah.”

Ubad bin Ziyad At-Taimi mempunyai beberapa saudara yang ahli ibadah. Wabah kemudian menyerang mereka. Ziyad kemudian memuliakan mereka. Ia berkata mengenai mereka:
”Para pemula yang terpencar kekhusyukan dari mereka,
Mereka semuanya paham terhadap Al-Qur’an.
Tahajud menyebabakan kulitnya kering.
Warna kuning dan terlihat tinggal tulang.
Mereka menjauhi tempat tidur karena takut, sedangkan orang-orang tidur nyenyak.
Mereka menangis dan mengerang di malam hari, berpuasa di siang hari,
Mereka membaca Al-Qur’an yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan begadang sambil bersujud dan sholat.”
Wallahu a’lam
#AbuMiQdam/AkhlaqMulia#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *