Mutiara Hadits 983 – HARTA ITU NIKMAT TAPI BISA MENGHINAKAN DAN MEMBINASAKAN

Semua manusia pada dasarnya memiliki sifat cinta dengan harta, karena harta bisa membawa kesenangan kenikmatan bahkan bisa memuliakannya.
Tidak sedikit manusia berjuang mati matian guna meraih yang namanya harta, seolah jika mampu meraih nya maka kehormatan akan didapat.
Islam hakekatnya tidak melarang seseorang untuk kaya harta, namun terkadang justru karena harta manusia banyak yang lalai dengan urusan akhirat, terlanjur sudah jaya berkuasa dengan harta yang melimpah hingga larut dalam kekufuran yang nyata.
Tiada hari yang terlewatkan kecuali berfoya foya menikmati semua yang ada, maksiat sudah menjadi sarapan penyedap mata, terlena dengan irama keindahan yang fana, tak terasa semua mengundang bencana dan azab yang nyata.
Lihat lah kisah Qorun Sebagaimana Allah Ta’ala, berfirman:

إِنَّ قٰرُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِالْعُصْبَةِ أُولِى الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 76)

Kekeliruan yang dilakukan oleh Qorun adalah sikapnya kepada kaumnya sendiri. Qarun yang hidup di tengah masyarakat justru bersikap aniaya pada kaumnya. Ia tidak menjaga etika dalam menjalankan kehidupan dikarenakan banyaknya harta yang ia punya dinilai akan mencukupi kebutuhan apapun yang ia inginkan. Ia berbuat lalim terhadap tetangga, serta menaruh kesombongan di atas kezalimannya. Hal ini tak lain merupakan buah pemikirannya bahwa harta yang ia punya adalah hasil dari kehebatan dan kepintaran yang ia dapati.
Qarun bukan tak diperingatkan atas kezaliman dan sikap sombong yang muncul dihatinya oleh kaum yang beriman.
Allah Ta’ala, berfirman:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِۦ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْئَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

“Dia (Qarun) berkata, Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 78)

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 79)

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صٰلِحًا وَلَا يُلَقّٰىهَآ إِلَّا الصّٰبِرُونَ

“Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 80)

فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُۥ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam Bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 81)

Ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik, bahwa ternyata kecenderungan memiliki harta yang melimpah dapat menjerumuskan manusia kepada lembah kekufuran dan kehinaan, sombong menjadi jabatan untuk melengkapi hasil kekayaannya.
Seseorang yang Allah Ta’ala kehendaki untuk memiliki ilmu ternyata lebih berharga daripada segudang harta, karena ilmu akan menjaga hidupnya sementara harta kita yang menjaganya.
Wallahu a’lam
#AbuMiQdam/AkhlaqMulia#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *